Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis bernama Rina bersama ayahnya. Ibunya telah meninggal ketika Rina masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, ayahnya bekerja keras sebagai buruh bangunan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Meski hidup BEJOTOTO DAFTAR sederhana, Rina selalu merasa bahagia. Ayahnya adalah sosok yang penyayang. Setiap pagi ia mengantar Rina ke sekolah dengan sepeda tua yang mulai berkarat. Sebelum berangkat bekerja, ayahnya selalu berpesan, Belajarlah yang rajin, Nak. Pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Rina berjanji akan membuat ayahnya bangga. Ia belajar dengan tekun dan sering meraih nilai terbaik di kelas. Namun, di balik senyumnya, ia tahu ayahnya semakin hari semakin lelah. Rambut yang mulai memutih dan batuk yang tak kunjung sembuh membuat Rina sering merasa khawatir.
Suatu hari, sekolah Rina mengadakan lomba menulis surat. Tanpa ragu, ia menulis surat untuk ayahnya. Dalam surat itu, ia mengucapkan terima kasih atas semua pengorbanan sang ayah dan berjanji akan menjadi anak yang sukses agar ayahnya tidak perlu bekerja terlalu keras lagi.
Surat itu disimpan di dalam tas. Rina berniat memberikannya saat ulang tahun ayahnya beberapa hari kemudian.
Namun, takdir berkata lain.
Ketika sedang bekerja di sebuah proyek bangunan, ayah Rina mengalami kecelakaan. Ia segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Dunia BEJOTOTO ALTERNATIF seakan runtuh. Orang yang selama ini menjadi tempatnya bersandar telah pergi untuk selamanya. Di rumah yang kini terasa sunyi, Rina menemukan tas sekolahnya. Saat membuka salah satu buku, ia melihat surat yang belum sempat diberikan kepada ayahnya.
Tangannya gemetar ketika membaca kembali setiap kalimat yang ditulis dengan penuh cinta. Air matanya jatuh membasahi kertas.
Terima kasih, Ayah. Aku bangga menjadi anakmu. Tunggulah, suatu hari nanti aku akan membuat Ayah tersenyum.
Sayangnya, ayahnya tak pernah sempat membaca surat itu.
Sejak hari itu, Rina menyimpan surat tersebut di dalam sebuah kotak kayu bersama foto keluarga. Surat itu menjadi pengingat bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan ketika semuanya telah terlambat.
Bertahun-tahun kemudian, Rina berhasil meraih cita-citanya sebagai seorang guru. Di hari pertama mengajar, ia selalu mengingat pesan ayahnya tentang pentingnya pendidikan. Ia mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mencintai dan menghargai orang tua selagi mereka masih ada.
Rina percaya bahwa kehilangan memang menyakitkan, tetapi kenangan dan kasih sayang tidak akan pernah benar-benar hilang. Dari kisah hidupnya, ia belajar bahwa kata terima kasih, maaf, dan aku sayang padam sebaiknya diucapkan hari ini, bukan ditunda hingga esok. Sebab tidak ada seorang pun yang tahu kapan kesempatan terakhir itu akan datang.